Tampilkan postingan dengan label chapter 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chapter 4. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 April 2013

Dear You #4


Buat kamu yang sebentar lagi bakal pergi.
Hati-hati.
Selamat tinggal, semoga kita bisa ketemu lagi.
Semoga kita bisa bertahan.
Semoga tidak akan ada yang berubah nantinya. 

Masa-masa bareng lo sebentar banget sih. Bahkan gue gak bisa mastiin apa masih sempet untuk ngerayain anniv pertama bareng-bareng atau gak.

Kenapa harus pergi?

Lo gak lihat perjuangan gue tujuh bulan ini? Gue bertahan buat lo, bertahan dengan kebodohan ini. Yakin kalo semua yang indah itu gak bisa terjadi dengan instan, dan itu semua terbukti sekarang. Tapi meski begitu, kenapa semua hal indah ini terhapus sama hitungan hari yang lo kasih sebagai deadline dari kebersamaan kita?

Harus secepat itukah? Gak bisa diundur?

Ya, gue tau lo pergi demi kebaikan lo dimasa depan juga. Tapi lo apa gak mikirin kebaikan buat kita sekarang?

Oke, setidaknya lo bayar tujuh bulan masa main layangan (re: tarik-ulur) itu dengan kebersamaan yang nyaris setiap saat dan setiap waktu selama seminggu terakhir ini.

Tapi bahkan lo gak bisa ikut ngerayain ultah gue beberapa bulan lagi. Bahkan gue gak bisa ngelihat lo lagi sebelum gue pulang untuk liburan semester ini. Terlalu banyak kata bahkan yang menandakan gue terkejut sekaligus gak terima dengan kenyataan lo bakal pergi.

Berapa lama? Apa tujuh bulan gue nunggu itu belum cukup? Gue sekarang harus nunggu lagi? Kalo kemarin gue nunggu dan berujung jadian, kali ini gue nunggu bakal berakhir dimana? Selalu ada kemungkinan buruk yang menghantui pikiran gue.

Tapi gue pingin bisa berpikir positif, belajar dari segala macem rasa sakit yang gue rasain selama tujuh bulan ke belakang. Ternyata bener, gak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua yang kita tanam akan kita petik hasilnya.

Gue seneng sekarang bisa manggil lo 'sayang', seneng karena sekarang kita pacaran. Terkadang gue mikir, kenapa gue seperti balik ke zaman pacaran waktu SMP, terlalu lebay, malu-maluin tapi bahagia? Setiap kita berantem, setiap lo ngambek, setiap kita pergi bareng... gue ngerasa super duper luar biasa. Gue ngerasa seperti gak akan mungkin kita bisa sampe di detik ini. Tapi nyatanya kita di sini sekarang, bareng-bareng. Kita lho, bukan gue dan lo.

Ya ampun, gue berharap buat kebaikan lo, kebaikan gue, kebaikan kita. Gue gak pingin berharap jauh dan tinggi-tinggi, tapi bolehkan kalo gue bahagia lebih lama lagi dengan lo?

Gue sayang lo, lebih dari itu... gue cinta lo.

Gue gak pinter bahasa inggris sih memang, tapi untuk sekedar bilang I love you, I miss you... gue bisa kok.

Love you, miss you :*

Kamis, 07 Maret 2013

CAK (Cerita Anak Kos) #4

YEAH!!! Setelah satu bulan melakukan program PGMR alias Perbaikan Gizi Mahasiswa Rantauan di rumah, sekarang gue-dan tiga orang lainnya, kembali lagi menghadapi layo dengan segala keindahannya ini.

Cukuplah yaaa, kebahagiaan yang dikasih lampung selama satu bulan kemarin. Tiga hari berat badan naik empat kilo pemirsa. Bukan sulap bukan sihir, tiga hari naik empat kilo!!! Alhamdulillah sekarang badan masih bebentuk badan manusia bukan badan beruang.

Dan kami memulai-lagi, kehidupan yang super duper extreme tidak terkira di layo. Setelah semester satu kemarin dipenuhi dengan canda-tawa dan segala cacian tentang layo, sekarang kami kembali dengan janji tulus dan suci untuk mulai mencintai layo dengan segala keindahannya.

Bayang-bayang nilai C menjadi momok yang sangat menakutkan buat kami berempat, sehingga membuat kami akhirnya mengikrarkan janji untuk ‘berengoh’ bersama. Berengoh itu apa? Aduh... itu bahasa Afni. Artinya seperti yaa udah-udah lagi, mari bertanggung jawab, gitu kira-kira. Buat lebih jelasnya tolong tanya langsung ke afni *colek afni*

Tapi yang namanya kebiasaan yaaa mau gimana juga tetep susah diilangin. Ternyata meski kami mengusung kata “berengoh”, nyatanya kami tetep aja seperti yang duluuuu~ terbukti dari ngurusin berkas buat ngajuin beasiswa PPA. Udah tau IP ngepas, ngegedein harepan lewat beasiswa PPA ini tapi ngurusinnya kok kayak mau-gak mau. Kebanyakan bilang nanti, besok aja, masih lama kok waktunya, dll yang akhirnya berujung dengan gue dan afni yang kalang kabut hari ini-28 Februari 2013, karena hari ini hari terakhir nyerahin berkas. Alhamdulillahnya berkas itu udah diterima panitia, tinggal tunggu hasil. Semoga diterima ya Allah, semoga dapet ya Allah beasiswanya. Amin.

Dan... for your information. Gue berharap banget ada ujan duit di layo ini. if you asking me about the only one wish I want so badly to be happen, that’s I have a money WITHOUT LIMITS!!! Because I’m dying every day here, you know?! Mau makan enak takut ujung bulan makan nasi garem, mau makan ngirit takut nanti kurang gizi terus berubah jadi tambah bego. Serba salah. Ya Allah, sumfeeeeeh pingin pinjem kantong ibu aja gak perlu kantong doraemon.

Tapi yaaaa Tuhan, udah tau kami ini anak kos jelata, masih aja dikasih cobaan yang amat sangat sulit untuk dilawan. BELANJA!!!

PALEMBANG SQUARE. PALEMBANG INDAH MALL. PALEMBANG TRADE CENTER.

DDUUUARRR!!! Nyaris setiap minggu broh ngegaul, udah kayak anak pengusaha baja dari luar planet bumi. Astapirulloh, liat dulu coba isi kantong yang nipisnya cepeeet banget itu :” belum ditambah yaaa sederet online shop yang ada di grup BBM. Parah gila! Gak tahan buat yang ini mah.Mending nahan laper deh daripada gak kebeli ini dan itu yang menggiurkan mata. Dan yaaaa, gue udah menghitung jatah gue bulan depan. Sepertiganya sudah harus dihibahkan pada pemilik rekening di beberapa online shop tersebut. Gue  belanja woy! Gue belanja banyak banget udah kayak gak punya otak.

Bella juga. Afni juga. Anggie gak, tapi duit dia sama aja cepet abisnya karena berat diongkos pp layo-palembang setiap minggu.

Ya Tuhan, bantu kami *tersungkur*

Parahnya bebe gue yang udah gak karuan bentuk ini pake rusak pula. Ganti LCD 450ribu. Busetdah, makan ape gue bulan depan? Pukpuk diri sendiri.

Tapi ada yang lebih parah. Yang lebih parah adalah dengan sangat tidak tahu dirinya gue ngiler pingin minta dibeliin SAMSUNG GALAXY NOTE II yang harganya buju boneng bisa buat bayar sewa kos gua setahun dan masih susuk. Dan susuknya banyak pula *ngusep dada*

Dan awal maret ini dibuka dengan traktiran Galang. Ya Allah berikan kemudahan hidup buat Galang, sumfeeeh dia nraktir kita semua PH ya Allah. Satu orang satu van, meski van kecil. Dan tadi nopi dapet yang pinggirannya keju. Makasih Galang. Makasih ya Allah :"

 foto-foto kece di PH wakakakaka

itu yg cuma keliatan setengah yang namanya galang, serasi gak sama yg disampingnya? haha

karena kalap, lupa foto pan pizza waktu baru datengnya. langsung tanjaaaap!!!

udah kece belum?

perihnya layo gak keliatan kan?

Ya Allah perbaikan gizi banget dan sekaligus menaikkan tingkat kekecean budak layo. Udah makan PH terus pulang pergi ke PIM naik ‘burung biru’ lagi gak naik bis kota yang gak seberapa itu. udah gitu nyalon, belanja, makan-makan, ngeceng, jalan-jalan. Hati berasa ada di surga dunia. Neraka jahanam isi dompet gue!!!

Tapi... Subhanallahu. Maret dibuka dengan rezeki, semoga sampe awal Aprilnya pun rezeki tetep ngalir dengan lancar. Amin. Semoga beneran bakal ada duit jatoh dari langit atau jatoh dari mana aja deh, terus gue bisa beli Note II deh. Amin.

There’s enough ya Allah, novel rilis, IP semester 2 3,5 or more, NOTE II. AMIN YA RABBAL ALAMIN :”

Sabtu, 28 April 2012

Sparkling Taylor #4




CHAPTER 4

            “Tay....” sapa seseorang sambil melambai padaku.
            Aku berjalan pelan-pelan menghampirinya sambil memerhatikan sekeliling. Tempat apa ini asing untukku? Aku mengerutkan kening sambil berdiri dengan canggung di samping Joe yang tampak sangat santai dan tentu saja selalu menawan. Joe memakai kemeja putih dengan celana jins hitam dan sepatu kets putih, senyumnya mengembang ketika melihat penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
            “Benar kan?!” ucapnya bersemangat. “Kau cantik kalau tampil seperti ini.”
            “Benarkah?” aku tersipu. “Terima kasih. Ehm, Joe, apa yang akan kita lakukan di sini sekarang?”
“Apa saja yang ingin kau lakukan.” Janjinya sepenuh hati. “Ngomong-ngomong, apa aku tidak mengganggu jadwalmu hari ini?”
Aku menggeleng buru-buru. “Tidak-tidak, tentu saja tidak. Jadwalku setiap harinya hanya... belajar.”
“Benarkah? Pantas kau sangat pandai.”
“Trims.”
Aku dan Joe mengobrol santai untuk waktu yang lumayan lama, rasanya mudah sekali berkomunikasi dengan Joe sekarang karena ia tampak lebih membuka diri padaku. Joe lebih banyak bertanya soal aku dan kegiatan serta semua hobiku, topik penting perbincangan malam ini antara aku dan dia adalah aku. Aku, Taylor Alison Swift. Oh, yang benar saja? Masih sulit rasanya menerima ini sebagai kenyataan. Saat dulu kami berpacaran pun, Joe tidak pernah sebaik ini padaku. Maksudku bukan berarti dia jahat, hanya saja dia terlalu... bersikap manis.
Terpikirkan olehku untuk bertanya soal hubungan kami yang sudah usai di waktu yang lalu, aku ingin tahu apa motivasinya kala itu. Tapi tiba-tiba aku teringat bahwa mungkin topik itu akan menghancurkan detik-detik berikutnya dari hari ini. Jadi aku memilih untuk bungkam. Aku tidak berniat untuk mengungkitnya, paling tidak untuk saat ini. Jika semua ini berjalan baik, maka masih akan ada banyak kesempatan untuk kami membicarakannya.
Jujur saja, aku akui hubungan kami dulu sangat aneh. Bagaimana tidak, kami hanya berbicara di telepon dan jalan bersama di akhir pekan, hanya dua akhir pekan karena hubungan itu tidak bertahan lebih dari dua bulan. Selebihnya kami menghabiskan waktu di kampus, terlihat membosankan duduk berdua bersama dan lebih banyak memilih untuk diam. Tapi Joe tidak tahu bahwa setiap detik bersamanya dulu aku selalu merasa bersyukur dan bahagia, walau terkadang kebersamaan kami tidak berarti apa-apa baginya.
“Aku juga suka musik, kau tahu kedua saudaraku... mereka juga suka musik.”
“Oh, Nick dan Kevin.”
“Benar. Mereka sama seperti aku, tergila-gila dengan musik. Dan itu sangat baik karena membuat hubungan kami makin erat. Musik menyatukan kami dan... kita.”
“Kita?” ulangku terkejut. “Ya, benar.” Anggukku lagi dengan cepat.
“Tay, apa ini membuatmu sedikit sulit? Maksudku, meluruskan rambut... berdandan.... apa ini mengganggu?”
“Tidak, tidak sama sekali. Aku bisa menjadi seperti apa saja yang kau inginkan. Lagi pula, aku suka tampil cantik. Sudah lama ingin tampil seperti ini hanya saja aku kekurangan motivasi.”
“Aku... hanya tidak bisa bertahan kalau....” tiba-tiba Joe menatapku dengan tatapan bersalah sekaligus cemas sementara aku masih menunggu penjelasannya. “Oh, sudahlah... lupakan saja.” Senyumnya.
 "Aku tidak akan pernah merasa terganggu, Joe. Aku senang berjuang seperti ini lagi untukmu.... rasanya melegakan ada yang bisa aku lakukan agar aku pantas berdiri di sini ketimbang hanya bermimpi." ucapku dalam hati.