Jumat, 03 Juni 2016

Untuk Celah Kecil Pada Jemarimu.

Untuk celah kecil pada jemarimu...

Tunggulah, tak lama sebuah sentuhan lembut akan menghangatkannya.

Tidak saat ini, ketika dosa dan neraka masih begitu jelas terpampang.

Tapi nanti, ketika semuanya sudah jelas menjadi kewajiban sekaligus jalan setapak menuju surga yang sesungguhnya.


Untuk celah kecil pada jemarimu...

Jangan pikir hanya kau yang merasa kedinginan.

Lihatlah milikku sudah membiru dan mulai membeku.

Mati rasa karena terlalu lama menunggu balas sentuhan hangat milikmu.


Untuk celah kecil pada jarimu...

Bersabarlah...

Ada kalanya hidup terasa berat dibanding kematian akibat tak kuatnya kita menunggu.

Tapi bukankah celah itu hanya akan terisi ketika nyawa masih mengisi raga?

Bukankah hangat dan lembutnya sentuhan hanya dapat terasa ketika nafas masih naik-turun seperti seharusnya?

 

Untuk celah kecil pada jemarimu...

Berhentilah memerhatikannya.

Palingkan wajahmu ke arah lain!

Lihat apa yang ada dihadapanmu sekarang.

Cobaan lain?

Kebahagiaan kecil yang lupa kau syukuri?

 

Terakhir, untuk celah kecil pada pikiranmu...

Sudahi saja pemikiran menyedihkan tentang celah pada jemarimu yang masih belum terisi.

Tak tepat rasanya bagi kita mengkhawatirkan hal itu ketika namamu dan namaku sudah tertulis dalam Lauhul Mahfuz sebagai kesatuan yang ditakdirkan Tuhan.

Tutup celah kecil itu dengan kebaikan yang masih bisa sama-sama kita usahakan.

 

Untuk celah kecil pada jemarimu...

Bersabarlah...

Akan ada waktu bagi jemari itu bertemu pasangannya.

Tepat ketika perjuanganmu mengakhiri penantianku yang tak juga bisa disebut tak lama.

 

Sincerely,

Nofita Chandra

Palembang, 03 Juni 2016

11.47 WIB