Sabtu, 30 Juni 2012

Twihard Family...
I'm so so sorry for being really annoying because never come to say hi to you guys.
I'm stucked here, can't do anything.
Tomorrow is our 19th months anniversary.
I wanna say happy anniversary for us!
Congratulation and I LOVE YOU guys!
Thank you for being a good friend and family for me.
Thank you for being really inspiring for me.
I hope this family will be ever last.
I hope you will always love me forever kekeke^^
And I hope we will meet each other someday.

Can't wait until November.
Really excited when I knew Tanya is really beautiful and awesome in BD 2.

HAPPY ANNIV MY THF :*
Tanya will always love you guys.

Jumat, 15 Juni 2012

DERAMA #2

Hidup iu memang harus sabar nof.
Hidup itu gak bisa selalu berjalan sesuai kemauan lo.
Ada saatnya lo yang jadi bahan tertawaan orang-orang itu.
Ada saatnya lo yang jadi lelucon.

Gak perlu stress nof.
Gak perlu khawatir atau pun kepikiran.
Jangan nyusahin diri sendiri dan orang-orang di sekitar lo lah,
karena sikap lo yang siap buat ngehadepin masalah macam ini.
Sabar ya, Nof...
Ada saatnya lo yang dipuja tapi ada saatnya lo dihina.
Ini proses pendewasaan buat lo.
FIGHTING NOFITA!!!

Minggu, 10 Juni 2012

FINALLY!
Tanggal 10 Juni juga sekarang....
Itu berarti tinggal dua hari lagi menuju SNMPTN tulis hari pertama.

Selamat berjuang diriku!
Gue yakin lo bisa, Nofita!
Lo udah belajar mati-matian, kan?
Kuat-kuatin do'a aja sekarang ya?

Oke, mari berjuang!
"HIDUP ADALAH PERJUANGAN TANPA HENTI"
"HIDUP ADALAH PENGHARAPAN SEUMUR HIDUP"
Let's make it happen!
Do the best and get the best!
What you did it will be the result.

Mohon do'anya ^_^
Saya pasti bisa! Amin

DERAMA #1

Gue mau jadi orang hebat, yang nantinya gak ada satu orang pun yang bisa bilang enggak buat gue.
Gue mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa mendengar semua cerita, keluh kesah, dan cerita bahagia dari setiap orang.
Gue mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa melihat senyuman, tangisan, ratapan bahkan sorot mata kebahagiaan dari setiap orang.
Dan gue mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa ngerasain semua rasa bahagia, sedih, resah, gelisah, gundah, damai dan nyaman dari setiap detik waktu yang berjalan.

Tapi gue bener-bener mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa bilang iya untuk semua permintaan orang tua gue.
Gue bener-bener mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa mendengar semua cerita, keluh kesah dan kebahagiaan dari kedua orang tua gue.
Gue bener-bener mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa melihat senyuman, tangisan, ratapan bahkan sorot mata kebahagiaan orang tua gue dan merasakannya lewat hati gue yang tulus dan bersih.
Gue bener-bener mau jadi orang hebat, yang nantinya bisa menanggung rasa bahagia, sedih, resah, gelisah, gundah, damai dan nyaman yang setiap detiknya orang tua gue rasain karena gue.

Sungguh gak ada keinginan lain yang lebih besar dari pada melihat senyuman bahagia dari ibu dan bapak.
Gak ada keindahan yang lebih indah dari pada melihat sorot mata bangga ibu dan bapak saat menatap gue.
Gak ada rasa yang lebih membahagiakan dari pada rasa ketika gue mendengar suara ibu dan bapak bilang "Ini anak kami!".
Dan gak ada surga yang lebih nyaman dari surga kenyamanan yang mereka buat demi kebahagiaan gue.

Hari ini gue sadar akan satu hal, jalan lurus itu lebih jauh jarak tempuhnya dari pada jalan yang berkelok.
Kami mengambil jalan lurus itu sekarang, dan kami harus bersabar untuk mencapai tempat yang kami tuju.
Lebih lelah memang, tapi lebih bermakna.
Sekarang gue cuma mau ibu dan bapak gak merasa lelah dalam perjalanan, biarkan sedikit beban mereka gue yang tanggung.
Semoga dalam waktu dekat tempat yang dituju mulai terlihat.
Amin.

Rabu, 06 Juni 2012

Sparkling Taylor #6

CHAPTER 6

“Aku datang!” senyumku pada Joe yang sudah menungguku di kampus.
Ia tersenyum enggan lalu bangkit dan menarikku, membawaku ke tengah-tengah perkumpulannya. Teman-temannya saling berdeham dan ada yang dengan lancangnya tertawa. Aku menatap wajah Joe dan menemukan sorot tidak suka yang terpancar dari matanya. Aku menelan ludah dengan susah payah sambil berusaha bersuara.
Baru saja aku hendak mengambil nafas agar bisa berteriak riang menyapa teman-teman Joe ketika Joe mendahuluiku.
“Oke, guys, ini Taylor. Tentu kalian tahu dia.” Suaranya terdengar tak bersemangat.
“Hai, selamat pagi.” Ucapku dengan nada suara terjaga.
“Dia benar-benar cantik. Joe, selamat!” ucapnya sambil terkikik.
Bukannya senang, Joe malah mendelik padanya. “Oke, silahkan, Taylor... sesuai perjanjian. Ucapkan apa yang harus mereka dengar sebelum aku gila.”
“Oke, baiklah....” jawabku pelan. Aku menaikkan daguku, “aku sangat amat mencintai Joe.” Ucapku sambil menahan malu. Begitu menyudahi kalimat yang dijawab dengan teriakan “Huuuu” dari teman-temanku itu, aku buru-buru menundukkan wajahku.
“Baiklah. Selesai. Ayo, ikut aku!” Joe menarikku dan meninggalkan kerumunan teman-temannya.


= = = 

“Hai, Tay....” sapa Abigail dengan suara nyaring. “Aku dengar dari teman-teman, kau tadi bergabung bersama gengnya Joe di kampus, benarkah? Wow, itu pasti keren sekali!” cerocos Abby panjang-lebar, sepertinya Abigail tidak memperhatikan raut wajahku jadi dia tidak tahu kalau kondisi perasaanku sedang tidak begitu baik.
“Kau baik-baik saja, Tay? Apa kau terlalu shock? Oh iya, aku tau kau pasti gugup sekali tadi, tapi... itu kan sudah berakhir. Sebentar lagi kau akan terbiasa, percayalah.”
“Abigail!” bentakku sedikit kasar membuat Abby mengunci mulutnya rapat-rapat sambil memandangiku dengan tatapan meminta maaf sekaligus bertanya-tanya. Sementara itu aku menatapnya dengan tatapan sedih dan tidak enak hati karena sudah membentaknya. “Maaf....” ucapku singkat.
Abigail masih terdiam sampai akhirnya dia duduk di sampingku dan menghela nafas panjang sebelum kembali bersuara. “Tidak apa-apa. Aku yang tidak menyadari suasana hatimu sedang tidak baik untuk mendengarkan celotehanku, maaf....” ucapnya tulus.
Ucapannya barusan membuatku merasa makin tidak enak hati.
“Apa ada masalah? Soal Joe lagi?”
Abigail sangat mengerti aku. “Ya.” Jawabku malu-malu.
“Apalagi kali ini?” sepertinya ia sudah biasa mendengar dan melihatku bersedih karena nama ini. “Aku tidak memaksamu bercerita kalau memang kau tidak ingin men....”
“Dia memintaku tampil seperti dewi.” Potongku. “Dia ingin aku tampil lebih cantik dari pada Taylor yang ia lihat. Dia merasa kami tidak serasi dalam penampilan dan aku tahu itu benar. Dan aku sedih.” Aku menghembuskan nafas sambil membenamkan wajahku pada kedua telapak tangan. “Joe sangat baik karena mau menerimaku kembali, tapi aku tidak bisa memenuhi keinginannya. Ia hanya ingin aku tampil lebih cantik dan itu semua juga demi kebaikanku. Tapi aku tidak bisa....” aku mengakhiri penjelasanku dengan tertawa, bukan karena bahagia tapi karena aku putus asa.
“Cinta memang membuat orang-orang yang merasakannya jadi buta.” Ucapnya singkat. “Kau buta karena cintamu untuknya. Seharusnya jika dia juga mencintaimu seperti kau mencintainya, dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan. Seharusnya dia juga buta untuk melihat sejuta kekurangan pada dirimu yang selama ini terus ia ributkan.” Ucap Abigail sambil tersenyum.