Selasa, 24 September 2013

Dear You #13

HAI!!! *jumpalitandalemkamarkos*
Sudah lumayan lama gak curhat disini! Pasti dalem hatinya bertanya-tanya, "lagi gak galau ya, nop, makanya gak nge-blog?". Maaf, boleh ketawa dulu?
HAHAHA! Gak gitu lho, tapi kemarin emang lagi sibuk kuliah, sibuk nyiapin pemilu fkm, sibuk kuis, sibuk ngatur ulang perabotan di kamar, dan sibuk-sibuk yang lainnya. Jadi ya baru sekarang sempetnya, maaf yaaa blog-ku sayang *ciuminlayarlaptop*
Nah, sebelum lanjut belajar patologi dan IGD, juga ngelanjutin revisi UU, izinkan diriku posting chapter lanjutan dari 'Dear You'.
Kali ini akun twitter beruntung yang mengilhami lahirnya tulisan ini adalah akun punyanya mamas ganteng paling juara, Mas Andika Artlagadar @Artlagadar :*
Yaudah gak usah pance, enjoy!


"Kita hanya berdiam, padahal kita duduk tanpa jarak. Kamu kenapa menjadi sepi ?"

Andika Artlagadar @Artlagadar

 

Aku ingat bibir tipis yang sering menyunggingkan senyum manis yang aku sukai itu, bagaimana bibir itu membuka dan menutup sangat sering, melontarkan cemoohan, kata-kata sayang, rindu, terkadang menghardik marah padaku atau hanya tertarik seulas membentuk senyum setengah jadi yang menawan.

Dulu kamu cerewet sekali, selalu bawel soal ini dan itu mengenaiku. Jangan makan itu nanti sakit perut. Gak usah tidur malem-malem biar besok pagi gak bangun kesiangan. Tenaga jangan diforsir nanti sakit. Tugas dicicil ngerjainnya biar gak jadi beban. Dan masih banyak celotehan lain yang menghantam pendengaranku bertubi-tubi setiap harinya.

Dulu aku juga sama bawelnya denganmu, mengomentari ini dan itu dari celotehanmu. Kadang komentarku pedas dan berakhir dengan kita yang saling cemberut menatap satu sama lain. Kadang komentarku kelewat datar hingga membuatmu memilih untuk pergi sejenak dari sisiku supaya aku tau rasa. Kadang juga komentarku sama persis seperti apa yang kamu inginkan hingga membuatmu tersenyum lebar dan merasa bahagia.

Dulu kita seberisik itu. Mustahil kita bisa duduk berhadapan dalam diam. Pasti ada guyonan yang keluar dari mulut kita berdua yang kemudian disusul oleh decak tawa yang membahana, atau mungkin akan ada perdebatan kecil yang timbul dari acara yang baru saja kita tonton atau orang yang baru saja lewat dihadapan kita. Selalu ada hal yang membuat kita tidak berhasil mengunci mulut kita rapat-rapat.

Tapi sekarang situasinya berubah. Kita duduk berhadapan, tanpa ada jarak yang memisahkan. Mata kita bisa saja dengan bebas saling menatap, tapi kita memilih untuk tertunduk, menghindari mata masing-masing. Ada apa dengan kita sekarang? Kenapa kesunyian ini terasa begitu mencekam? Dimana semua canda-tawa dan komentar-komentar konyol yang dulu biasa keluar dengan mudahnya dari mulut kita?

Ada yang salah dengan aku? Ada yang salah dengan kamu? Atau ada yang salah dengan kita?

Apa karena sekarang kamu sudah tidak bisa memanggilku sayang lagi jadi kamu diam? Apa karena sekarang kamu sudah tidak berhak mengetahui keseharianku lagi karena itu kamu diam? Apa karena kita sudah tidak dalam hubungan yang sama lagi karena itu kamu diam?

Kamu masih memiliki hak yang sama untuk berceloteh seperti dulu. Kamu masih memiliki hak yang sama untuk menjadi seperiang dulu. Kamu masih memiliki hak yang sama untuk bahagia seperti yang dulu. Meski tidak lagi bersamaku... dan aku pun demikian.

Jadi, bisa kan kita menjadi baik-baik saja sekarang? Tak ada jarak yang menjadi penghalang, tak ada jurang yang jadi pemisah. Bisakah kita seribut dulu lagi ketika duduk berhadapan seperti ini, meski aku yakin apa yang kita bahas sudah tidak seperti yang kita bahas dulu? Aku menyukaimu karena celotehan panjang-lebarmu, jangan berubah, jangan berdiam diri seperti itu.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar