Minggu, 21 Agustus 2016

Love Notes



Seseorang yang sejak beberapa waktu lalu posisinya naik tingkat, mulai malam ini menjadi seseorang yang namanya ku ulang dalam do’a paling sering dan ku sebut paling kuat.


Cinta bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Tidak terkecuali aku disaat menatap matamu. Tidak, bukan disaat itu, tapi disaat aku memerhatikanmu dari jauh. Bodoh, ini kisah cinta klasik yang bodoh. Sekarang sudah di pertengahan tahun 2016, masih ada saja seseorang yang jatuh cinta dengan cara kampungan seperti memerhatikannya dari jauh seperti itu. Ada, aku orangnya.


Tertawalah untuk cara bodohku jatuh cinta. Tapi jangan menertawakan cinta itu sendiri, karena cinta tidak bersalah. Tidak pernah salah.


Berkali-kali aku ulangi, kenapa harus pada senyummu perasaan ini tumbuh? Kenapa harus karena sentuhanmu perasaan itu kian besar dan makin besar? Kenapa harus kamu yang menjadi pengalih dari segala pikiran berkecamuk dalam benakku ini?


Mungkin karena lelucon tidak lucumu. Mungkin karena senyum separuh yang seolah tak ikhlas itu. Mungkin karena satu dua kali kecerobohanmu yang tertangkap mataku. Mungkin karena bagaimana caramu menghormati orang-orang di sekitar. Mungkin karena perangai kerasmu. Mungkin karena semakin banyak waktu yang aku habiskan untuk memerhatikanmu.


Andai saja kamu mengetahuinya bahwa disetiap kali aku memerhatikanmu selalu terselip do’a dan kekaguman. Do’a untuk kesalahanmu agar tak terulang, kagum untuk keberhasilanmu yang membuatku terpesona.


Kamu hanyalah seorang manusia biasa, lengkap dengan ego dan dosa. Tapi karena itu aku memandangmu tak biasa. Kamu lantang menyuarakan kebenaran dan tidak malu untuk meminta maaf saat memang kesalahan ada pada pundakmu. Kamu selalu penuh semangat dan ambisi mewujudkan apa yang ada dalam kepalamu, tapi juga tak gentar untuk mengalah kala keadaanmu menundukkanmu.


Wajar kan kalau aku menyukaimu?


Terlebih diwaktu-waktu terakhir saat keadaan memaksa kita untuk selalu dekat. Sempat dalam hati aku berharap waktu berhenti berputar, atau biarkan waktu berjalan tapi jadikan aku sebagai rumah tempatmu kembali setiap kali pergi. Jadi aku tak perlu mengkhawatirkan kehilangan, tak perlu takut berhadapan dengan kekecewaan.


Tapi mana mungkin hal itu bisa terjadi. Aku terlalu memandang rendah diriku sendiri... bagaimana bisa orang sepertimu menjadikan diriku sebagai rumahnya? Sebagai tempat kembali setiap kali ia lelah dalam petualangannya?


Sampai pada terakhir... kita sampai diujung jumpa.


Karena yang paling masuk akal untuk diucapkan saat ini adalah ‘terima kasih’ bukan ‘sampai bertemu’ apalagi ‘aku akan merindukanmu’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar