Minggu, 03 Juni 2012

Sparkling Taylor #5

CHAPTER 5

         “Mengapa kau berpikir aku bisa menerimamu kembali?”
“Oh yang benar saja?” matanya membelalak menatapku. “Karena aku tahu aku selalu memiliki kesempatan.”
“Ya, benar. Kau selalu punya kesempatan tidak perduli seburuk apa kau mengakhirinya dulu.” Aku tersenyum masam. “Mengapa aku harus mengatakan pada teman-temanmu kalau aku sangat mencintaimu dan menerimamu kembali dan akan bertahan denganmu setiap pagi selama satu bulan ke depan?”
“Karena... aku ingin teman-temanku tahu bahwa aku adalah laki-laki paling beruntung karena bisa mendapatkanmu, membuatmu membalas cintaku.”
Sulit dipercaya ternyata tidak begitu sulit menaklukan hati Joe, bahkan aku tidak perlu berlutut untuk memintanya kembali karena ia sudah membuka pintu hatinya lagi selebar mungkin untuk menyambutku kembali. Tapi entah mengapa aku sulit berpikir jernih sekarang, yang ada di dalam otakku hanya alasan yang membuat semua yang dikatakannya tampak seperti kebohongan. Aku memang tidak pernah bertindak tepat pada apa pun waktu dan kondisi, mengapa jalan pikiranku aneh sekali? Seminggu yang lalu aku masih berlutut dihadapan cermin meminta hal seperti ini datang padaku. Tapi sekarang setelah ini semua benar-benar terjadi aku malah mencari-cari cara untuk tidak mempercayai ucapan Joe.
Sulit rasanya menepis rasa bangga yang mengembang dalam dadaku ketika mengingat apa yang ia katakan tentang aku dan kami beberapa saat yang lalu. Merasa seperti benar-benar istimewa sekaligus bodoh karena tidak menyadari bahwa apa yang dia pikirkan selama ini sama persis seperti yang aku harapkan akan ia pikirkan. Ternyata harapanku bukan sekedar khayalan tinggi belaka, ternyata harapanku itu bukan sekadar harapan kosong yang sia-sia. Bahagia rasanya melihat senyum itu sekarang tercipta karena aku.
“Jadi... apa yang kau tunggu?”
“Aku tidak tahu....” aku menggeleng pelan. “Hanya saja sulit bagiku untuk....”
“Kau tidak suka melakukan hal itu, membuktikan pada mereka bahwa aku memang sangat beruntung? Membuat mereka percaya sekaligus membungkam mulut mereka....” Joe menggeleng.
“Tidak, bukan seperti itu.”
“Lalu...??”
Aku mengangguk satu kali sebelum akhirnya bersuara lagi. “Baiklah, aku akan melakukannya.” Jawabku sambil tersenyum.
“Benarkah? Selama satu bulan ke depan?”
“Iya, aku tidak akan cepat bosan.”
“Jadi jawabannya ya?” mata Joe membulat penuh ekspresi puas dan gembira yang terlihat tulus dan nyata.
Aku mengangguk sambil tersenyum lalu tanpa sadar Joe memeluk tubuhku. Hanya pelukan singkat sebagai tanda luapan kebahagiaan kemudian ia melepaskanku dari pelukannya, menatap wajahku sambil tersenyum lebar.
“Terima kasih, kau menyelamatkanku kali ini... lagi. Kau benar-benar dewi penyelamat untukku.” Pujinya untukku membuat pipiku merona merah dan tersipu. “Kita akan rayakan ini!” ucapnya penuh semangat. “Besok datanglah pagi-pagi ke kampus dan berdandanlah yang cantik, luruskan rambutmu lagi dan pakailah pakaian yang indah. Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku memang pemenang sejati.”
“Meluruskan rambutku? Lagi?”
“Ya. Terus-menerus selama kau bersamaku... aku lebih suka melihatmu begitu.”
Aku mengangguk lesu. Bukan tidak suka hanya saja itu sedikit merepotkan, membuatku harus sedikit bangun lebih pagi dan bergegas sebelum berangkat ke kampus agar aku bisa meluruskan rambut ikalku dengan sempurna. Tapi baiklah, ini semua demi Joe. Aku tidak akan rugi sama sekali jika meluangkan sedikit waktu dan bekerja keras jika yang aku dapatkan adalah dia.
Inilah cinta buta!
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar