Rabu, 12 September 2012

Sparkling Taylor #8


CHAPTER 8

Lagi lagi aku berkutat dengan tumpukkan buku menyebalkan malam ini. Berulang kali aku melirik ponselku namun masih belum ada tanda-tanda penderitaanku akan berakhir. Ini sabtu malam dan aku menunggu Joe menghubungiku lalu mengajakku pergi keluar, entah kemana saja yang penting pergi bersamanya. Tapi pada kenyataannya aku harus pasrah dan menerima nasibku yang seperti biasa suram disetiap sabtu malam bersama setumpuk buku tebal yang membosankan.
Ketika ponselku berdering dan aku melonjak kegirangan, rupanya pesan yang masuk bukan dari Joe melainkan dari Abigail. Entah apa yang membuatnya mengirimiku pesan disaat aku tidak mengharapkan pesan apa pun selain pesan dari Joe? Dengan enggan aku membuka pesan itu dan membacanya.
“Hah?” aku tertawa geli. “Sejak kapan orang ini menjadi biang gosip?”
Bergegas aku mengetik pesan balasan dan mengirimnya lagi pada Abby.
Aku sedang dalam mood yang tidak baik untuk bergosip. Anak baru itu masalahmu, bukan masalahku. Jangan ganggu aku. End~
“Kenapa harus repot-repot memberitahuku soal anak baru? Aku tidak akan tertarik, sama seperti tidak tertariknya aku untuk melewati malam ini.” Desahku kecewa sambil membenamkan wajahku dikedua telapak tangan.
= = =
“Taylor, aku dengar namanya sama dengan namamu.”
“Ada banyak Taylor di dunia ini dan kenapa kau harus mempermasalahkan dia denganku?” jawabku dingin sambil terus berjalan.
“Aku penasaran. Mereka bilang dia tampan dan sangat populer di sekolahnya yang lama. Dia seperti kebalikan dari dirimu.”
“Oke cukup!” aku tiba-tiba berhenti berjalan dan Abby tanpa sengaja menginjak kaki kiriku. “Aw!” jeritku kesakitan.
“Maaf....” sesalnya. “Ayolah, Taylor, kita cari dia dan lihat seperti apa dia sebenarnya. Beberapa mahasiswi bilang kalau ketampanannya bahkan mengalahkan Joe.”
“Oh benarkah?” tanyaku sok tertarik. “Aku benar-benar tidak ada niatan, tidak perduli setampan apa wajahnya. Permisi.”
Bagiku tidak ada yang lebih tampan dari Joe. Bukankah Abigail sendiri yang bilang kalau cinta itu membuat orang menjadi buta? Dan aku sekarang buta, aku tidak bisa melihat apa-apa, hanya Joe yang ada di seluruh penglihatanku. Dan apa itu salahku? Apa Abigail berpikir bahwa aku ingin begitu? Jujur saja, aku tidak ingin. Aku sungguh ingin hidup normal, tapi aku merasa tidak bisa bernafas jika aku tidak memikirkan Joe meski hanya sedetik. Oke, cukup! Aku berlebihan sekarang! Aku harus kembali fokus, aku harus melakukan apa yang harus aku lakukan hari ini. Aku harus menyelesaikan masalahku dulu baru menyelesaikan yang lain-lain.
Apa aku punya masalah? Ya, tentu saja. Hidup ini akan lebih indah dan berwarna dengan sejuta masalah yang ada, bukankah begitu? Jadi, mari nikmati sejenak masalah kita hari ini dan rasakan pendewasaan diri secara natural yang kita bisa lakukan dari masalah yang kita hadapi^^
“Oke baiklah, bagaimana kalau kita sekarang bertaruh?” tiba-tiba Abby sudah berjalan di sisi kananku.
“Bertaruh apa?” jawabku dengan nada malas.
“Bertaruh soal setampan apa dia. Kita lakukan voting terhadap mahasiswi lain, kita lihat sebanyak apa yang mengakui dia tampan dans ebanyak apa yang tidak. Kalau ternyata banyak yang beranggapan dia tidak tampan, kau menang dan kau tidak harus bertemu dengannya. Tapi kalau kau kalah, kau harus berkenalan padanya. Bagaimana?”
“Untuk apa kita lakukan hal bodoh macam itu, Abby? Lagi pula....”
“Taylor?” suara itu menginterupsiku untuk segera berbalik.
Joe. Berdiri di sana, seorang diri, menungguku. Jelas itu tidak mungkin! Itu hanya... orang asing. Orang asing yang sekarang sedang berjalan menjauhiku, dia baru saja memanggil namaku tapi dia berbalik pergi. Aku belum sempat melihat wajahnya karena begitu berbalik yang terlihat hanya punggungnya yang perlahan menjauh dan menghilang di antara kerumanan mahasiswa lain.
“Kau dengar ada seseorang yang memanggilku? Baru saja....”
Abigail menggeleng dengan aneh.
“Sepertinya ada yang memanggilku tadi....” aku menggelengkan kepala. “Oke, baiklah. Soal taruhan itu... lakukan saja dengan orang lain. Aku punya urusan yang lebih penting.”
“Soal Joe lagi?”
“Benar.”
“Huh.... baiklah. Semoga berhasil!” Abigail seperti sudah tampak lelah mengetahui aku punya masalah lagi dengan Joe.
            “Oke.” Aku berbalik pergi.
            Tapi tak begitu lama setelah aku berjalan Abby memanggilku lagi. Aku kira ia akan berjalan menghampiriku, ternyata ia tetap berdiri di sana. Dengan jarak yang lumayan jauh Abby tersenyum dan berkata....
            “Taylor, kau tahu tujuan akhir dari cinta?”
            Aku mendengar suaranya dengan jelas meski sekeliling kami tidak bisa dibilang sepi. Aku menggeleng sambil menatapnya kebingungan.
            Bahagia!” teriaknya dengan penuh semangat. “Temukan kebahagiaanmu dan itulah cinta untukmu.” Ucapnya sambil berbalik pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar