Minggu, 13 Oktober 2013

Dear You #14

Good morning. Sunday morning and long weekend.
Stay far away from home, pass Idul Adha alone without family, okay I know! I should to survive!!!
Then, I want to share the next chapter of 'Dear You', if the currents chapter are inspired by people, now I post the one that inspired by myself haha. Okay, let's enjoy and happy reading!!!



"Kangen itu gak bersyarat. Kangen itu gak tahu waktu. Kangen itu gak ada jadwalnya.

Dan kangen gak ada limitnya.

Parahnya lagi... kangen susah-susah gampang dapetin obatnya."

by Nofita Chandra @nofitachandra 

Sore ini, dibawah langit mendung palembang yang tetep gak bisa ngebuat udara jadi lebih adem. Aku merasakan rindu perlahan-lahan menjalari hati, mengalir lewat darah dan mulai mengganggu organ-organ penting tubuh, mulai dari jantung, hati, paru-paru, bahkan juga otak.

Perlahan aliran darah menderas, membuat jantung berdetak kian cepat. Lari ke paru-paru yang memompa oksigen kian intens membuat ada rasa lelah dan tak enak yang tertahan pada ulu hati. Dan berakhir pada otak yang menangkap sinyal itu dan menjabarkannya sebagai rasa rindu yang tak tertahan, rasa rindu yang menyesakkan. Otakku terus saja memikirkanmu, otakku terus saja mencari-cari cara untuk bisa menemuimu. Sebagian kecil memoriku yang lemah berusaha menarik sisa-sisa ingatanku tentang wajahmu, berharap itu cukup untuk mengurangi rasa rindu yang gila ini.

Kecintaan terhadapmu adalah candu, kian hari cintaku kian tumbuh besar dan membuatku gila. Besarnya cintaku berbanding lurus dengan keegoisanku untuk selalu berada di dekatmu, membuat rindu itu dengan sangat mudah dan seringnya menyergapku ditengah-tengah kesendirian nan jauh dari dirimu.

Kerinduan ini seolah tak mengenal dimensi waktu, ia bisa datang tiba-tiba bersamaan dengan naiknya matahari ke peraduan atau saat bulan sedang bersinar terang dalam lukisan indah langit malam bertabur bintang. Kerinduan ini juga seolah tidak mengenal tempat, seperti tidak tahu diri, ia bisa seketika datang ketika senyumku tengah terkembang saat berada dikeramaian teman-teman, atau kian mencekam disaat kesendirian menjelang tidur malam datang.

Tanpa syarat, tanpa tahu waktu, tanpa ada jadwal, tanpa ada limit. Tanpa ada obat.

Jarak bukan satu-satunya hal yang membuat rindu ini makin parah, tapi juga rasamu yang tak terpaut sama seperti milikku. Aku meragukan kerinduanmu, apakah sama seperti milikku? Tapi rindu ini tidak bersyarat. Terserah, kamu rindu juga atau tidak denganku, tapi aku tetap akan merindukanmu. Mungkin kamu bisa tidur nyenyak malam ini tanpa sedikit pun terbesit  dalam otakmu bagaimana keadaanku, sementara aku menghabiskan setengah lebih dari malam hanya untuk menghapuskan kekhawatiranku tentang keadaanmu.

Dan aku tidak tahu kapan rindu ini akan habis... setelah kita bertemu kah? Setelah aku berhasil memelukmu kah? Atau setelah semua kisah kita usai? Tidak ada jaminan aku bisa berhenti merindukanmu, untuk saat ini aku hanya bisa mengulur waktu lebih lama untuk sampai pada titik terendah dan terburuk dari kerinduanku terhadapmu.

Terkadang setelah bertemu denganmu pun aku belum bisa menuntaskan masalahku dengan rasa rindu ini. Keegoisanku menginginkanmu untuk tetap ada disisiku, keserakahanku menginginkanmu untuk terus berada dalam jarak pandang yang sanggup ku lihat, jarak sentuh yang sanggup aku gapai.

Aku adalah orang yang paling bodoh, egois sekaligus paling tak berdaya jika sudah berbicara soal kerinduan terhadapmu. Aku merindukanmu... selalu merindukanmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar