Sabtu, 03 September 2016

Dear You #26




Hai, apa kabar?

Pertanyaan singkatku sebagai pembuka reuni kecil kita kala bayangmu menyergap ditengah kesepian yang tiba-tiba datang. Heran ya, kenapa datangmu harus diwaktu-waktu seperti ini? Seperti saat aku sedang suntuk, sedang sendiri, sedang bosan, atau ketika indera perasaku-hati tiba-tiba mati.

Apa kau bahagia hari ini?

Itu adalah pertanyaan keduaku saat seulas senyummu kembali terangkai begitu nyata dalam benak. Ah, senyum itu... bagaimana dulu bentuknya mampu membolak-balik hatiku, mengacaukannya. Kekuatan magisnya dengan seketika bisa membuatku yang bermuramdurja menjadi bahagia. Sudut simpul pada kedua sisinya dengan serta-merta bisa menciutkan amarahku, menenggalamkannya dalam satu kata maaf singkat yang memperbaiki keadaan, memaklumi kesalahanmu.

Bagaimana hidupmu tanpa aku?

Pertanyaan ketigaku mulai terdengar tak masuk akal ya? Tapi dengan begitu saja alunan suaramu menggema mengisi seluruh pendengaranku. Suaramu ketika bicara, suaramu ketika marah, suaramu ketika tertawa... suaramu yang sangat aku suka. Ku habiskan begitu banyak waktu untuk menjadi pendengar setiamu, bahkan hanya sebuah tarikan nafas kesalmu saja di hargai mahal oleh telingaku. Celotehmu yang penuh semangat menceritakan rencana-rencana masa depan, lelucon-lelucon renyahmu yang mengocok perut, atau hardikkan marahmu yang menakutkan. Tak terasa semuanya sekarang hanya tinggal alarm palsu dalam ingatan...

Apa dia mampu mencintaimu sebanyak aku?

Pertanyaan kali ini pasti mulai membuatmu geleng-geleng kepala. Tapi... jangan pergi dulu, tetap disana dan dengarkan seluruh pertanyaanku sampai selesai. Setidaknya dengarkan saja, walau tidak menjawabnya. Aku tahu menjawab iya hanya akan melukaiku lebih dalam, tapi menjawab tidak sama saja membuatku mengharapkanmu lebih banyak. Tidak apa. Lebih baik tak usah perdulikan perasaanku, aku sudah bisa mengurusnya sendiri. Aku tidak menggenggam tanganmu karena takut kehilangan melainkan sebagai bukti bahwa aku membutuhkan kehadiranmu. Aku ingin dirimu selalu dalam jangkauan pandangku bukan karena aku si pencemburu, aku hanya ingin terus dan terus memerhatikanmu tanpa lagi perduli dengan perputaran dunia. Ya, aku mencintaimu sebanyak itu. Apa dia juga begitu? Atau lebih baik dariku?

Kapan kiranya kau mengizinkan kita bertemu lagi?

Pertanyaan ini mungkin mulai memberatkanmu, ya? Aku mulai terdengar seperti banyak menuntut, ya? Tapi aku ingin kembali membaca gerak matamu ketika khawatir, ketika gelisah, atau ketika terkejut bahkan ketika berbohong. Aku ingin meraba kulit halus pada telapak tanganmu yang dengan ajaib terasa hangat pada kulitku. Aku ingin mendengar suara langkah kakimu yang mengiringi langkahku, kadang beberapa langkah di belakang, kadang begitu tergesa-gesa di depanku.

Akankah kau menjawab pertanyaanku?

Bisakah setidaknya kau enyahkan kesunyian ini meski hanya di dalam mimpi? Aku sudah muak! Aku nyaris gila karena terlalu lama berteman dengan kesepian pasca kau tinggalkan. Setidaknya izinkan bayangmu seutuhnya hidup dalam mimpiku, bukan sekedar wujud setengah tak bernyawa yang mati suara. Bersikap adil lah... hukum aku di dunia nyata, tapi manjakan aku dalam mimpi. Aku tidak apa-apa... mungkin terdengar gila tapi aku benar-benar baik-baik saja. Aku lelah berhalusinasi mendengar suaramu, lelah menerka-nerka bagaimana keadaanmu, lelah menghitung mundur berulang kali waktu saat kau memuaskan pertanyaanku dengan jawabanmu.

Singkat saja... katakan 'kau merindukanku' agar aku tinggal dalam lubang yang sama yang kau tinggalkan. Atau... katakan 'jangan ganggu aku' lagi agar aku tahu diri dan berlari pergi. Karena selama tak ada jawab apa-apa darimu selama itulah aku berharap, selama itulah aku bertanya-tanya.... meski hanya sanggup ku lampiaskan pada sesosok bayangmu dalam benak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar