Selasa, 02 Februari 2016

Movie : The Finest Hour



Well, sekarang gue lagi duduk berhadapan dengan orang yang menjadi sumber kesedihan gue akhir-akhir ini. Orangnya gak tau gue lagi nulis, dia taunya gue ngerjain revisi laporan magang haha.

 

Untuk menyambut perpisahan dipelupuk mata, kemarin sore gue dan anak-anak kosan merayakannya dengan cara nonton bareng. Rencananya dengan personil lengkap, plus maha dan bella, but apadaya bella capek abis perpisahan di dinkes dan teta sakit jadi gak kuat mau pergi.

 

Akhirnya kita bertujuh, gue, Anggi, Fina, Intan, Maha, Aisyah (Adiknya Anggi yang lagi liburan di bumi sriwijaya, gue belum bilang dia lagi nginep dikosan udah dua mingguan ini), dan Kak Dinda. Tebaklah, dari enam nama yang gue sebut barusan, siapa orangnya yang hendak pergi meninggalkan :”)

 

Awalnya kita mau nonton The Boy, tapi nyatanya begitu sampe di XXI poster The Finest Hour lebih menggoda jadi akhirnya kita memutuskan nonton itu aja. Rute dimulai dari pesen tiket, buka puasa di Chatime, sholat maghrib, nyemil sosis yang menurut gue mahal tapi emang aseli enak, baru deh masuk teater. Dan film dimulai dengan iklan-iklan film  coming soon; London Love apa ya kalo gak salah judulnya, Talak Tiga, sampe filmnya Leonardo DiCaprio yang gue lupa judulnya apa.

 

Dan akhirnya film dimulai, jujur aja, The Finest Hour ini agak lamban intronya. Terus alur cerita yang dibuat bergantian dari sudut pandang si Mr. Webber kemudian Sybert agak bikin gregetnya kurang. Tapi, yah well, adegan Mr. Webber dan tiga rekan lain nerobos ombak yang gak masuk akal itu emang bikin deg-degan. Gue nahan jerit dengan cari ngeremes-remes jari Aisyah yang kebetulan duduk sebelahan.

 

Dan, wow! Gue suka sama kepercayaan diri Mr. Webber dan pacarnya, Miriam. Yang satu pede menerjang ombak dan badai ditengah lautan luas, yang satu pede menyatakan cinta bahkan ngajak merit pasangan. Well, ini cewek mengingatkan gue dengan diri sendiri yang suka gak tahan mengikuti apa yang disebut orang kebiasaan. Kayak, kebiasaan cewek menunggu dan lain-lain. Meski gue gak pernah juga nembak cowok duluan, tapi kurang-lebih gue sama lah untuk urusan take it or leave it mindset yang dia punya.

 

Dan film ini memberikan gue sebuah pelajaran bahwa yang namanya keyakinan itu gak bisa dipersalahkan. Ketika lo yakin dengan diri lo sendiri, jangan dengerin omongan orang, jangan perduli dengan pandangan dunia. Keep moving forward with that faith. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini, dan gak ada hasil yang mengkhianati usaha. Yah, meski kadang manusia suka lupa kalo kadang hasil dari usaha itu gak cuma bisa dinikmati di dunia.

 

Thanks nian lah, dengan orang-orang jenius yang berhasil bikin film inspiratif begini. Yah, semua film sebenernya inspiratif sih, tergantung dari sudut pandang si penonton. Tapi mungkin kalo film kayak ‘pocong jumpalitan’, atau ‘kuntilanak mandi kembang’ dan lain-lain, gak perlu dibahas lah ya...

Intinya, seneng banget lebih milih The Finest Hour kemarin ketimbang The Boy.

 

I take your faith, Mr. Webber! I believe I’ll get over it very soon. It is not impossible to graduate on this June or August. May Allah bless my way, Amiiinn.




3 komentar:

  1. Balasan
    1. 3.8/5 Lis, intro-nya agak kepanjangan dan cerita dari dua sudut pandang bikin yg tadinya udah greget terus down lagi. Tapi endingnya okay kok :)

      Hapus